Putriku sayang, tak terasa kini engkau telah tumbuh dewasa. Rasanya batu kemaren bunda menimang-nimang putri bunda yang masih merah, dan sekarang kamu sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik. Balutan jilban putih yang rapi makin menambah keanggunanmu, melengkapi seragam putih biru yang kau kenakan hari ini.

Putriku yang seanggun melati, bunda perhatikan akhir-akhir ini kamu lain dari biasanya. Sepulang sekolah, kamu tak lagi mencari bunda untuk sekedar mengobrol atau membantu bunda memasak. Kamu lebih memilih langsung masuk kamar dan baru keluar jika ingin mandi atau makan. Selain itu, sekarang kalau bunda ajak ngobrol kamu sering nggak ngeh atau kalaupun nyambung, nanggapinya lama banget. Rasanya kamu lebih asyik dengan HP-mu yang seolah nggak pernah berhenti berdering. SMS-an sama siapa nak, kok penting banget kelihatannya.

Putriku yang manis, hari ini bunda masuk ke kamarmu tanpa izin. Maaf ya nak, bunda terpaksa karena bunda khawatir akan keanehanmu beberapa hari ini. Siapa tahu kamu sedang ada masalah pelik.

MasyaAllah, bunda pun terkejut saat inspeksi ke kamar dan mendapati fotomu bersama seorang lelaki. Foto itu bunda temukan di sela-sela bukumu yang tergeletak di meja belajar. Ekspresimu dalam foto itu terlihat malu-malu, tapi bunda pikir berani juga engkau foto berdua dengan laki-laki seperti itu. Cepat-cepat bunda kembalikan foto tersebut ke tempatnya semula. Hmfh, bunda cuma bisa geleng-geleng kepala, rupanya ini yang bikin putri bunda lebih suka menyendiri akhir-akhir ini. Putri bunda sedang jatuh cinta rupanya.

Berikutnya bunda mencari HP-mu. Beruntung sekolahmu tidak memperbolehkan siswa membawa HP  ke sekolah, coba kalau HP ini kamu bawa ke sekolah, barangkali kamu akan lebih syik SMS-an ketimbang memperhatikan pelajaran. Setelah bunda menemukan HP-mu, dugaan bunda makin kuat. Berpuluh-puluh sms puitis nan mesra tersimpan rapi di inbox dan folder khusus. Subhanallah, sudah sejauh ini rupanya hubunganmu dengan laki-laki teman sekolahmu itu.

Sorenya, seperti biasa kamu pulang dan langsung masuk kamar. Bundapun bersikap seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Dan malamnya, bunda sempatkan mambahas hal ini dengan ayah. Tanpa bunda duga, ternyata ayah marah. Ayah tidak habis fikir, kenapa putri ayah yang sejak kecil sudah dididik secara islami ternyata masih juga berani berpacaran.

Ya, bunda fikir banyak faktor yang membuat engkau seperti ini. Dulu ketika masih SD, ayah dan bunda masih mampu menyekolahkanmu di SD Islam terpadu yang lingkungannya kondusif. Sejak masuk SMP negeri, tetap saja lingkungannya hiterogen, berbeda dengan yang dulu. Ditambah lagi anak-anak seusia putri bunda memang lagi masa puber. Ya, sedang masa-masanya mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis.

Ayah mulai bersikap keras kepadamu, tanpa sepengetahuanmu ayah mengundang teman laki-lakimu ke rumah. Dengan tegas ayah jelaskan pada temanmu itu, bahwa dalam Islam tak mengenal istilah pacaran, yang ada hanya pernikahan. Ayah pun menantang teman lelakimu itu, berani nggak menikah dengan putri ayah sekarang. Lantaran diperlakukan seperti itu, akhirnya anak lelaki itu pun keder juga dan memutuskan hubungan dengan putri ayah.

Ternyata masalahnya tak selesai sampai disini. Seperti yang bunda duga, ternyata engkau marah besar pada ayah. Dan kemarahan itu kamu tumpahkan dengan memprovokasi adik-adikmu. Ternyata Islam itu ga asyik ya, Islam itu begini dan begitu.

Oh, ayah pun akhirnya menyesal telah bersikap terlalu keras padamu. Bunda pun mencoba untuk menengahi masalah ini. Bunda mencari saat yang tepat dan mengajakmu bicara dari hati ke hati.

“Nak, masih marah ya sama ayah?”, tanya bunda mengawali percakapan denganmu sore ini.

“Ehem….”, jawabmu seraya mengangguk cepat.

“Kalau sama bunda? Marah juga?” tanya bunda lagi.

“Hmm ya sedikit.” jawabmu sambil manggut-manggut.

Lama, kita pun terdiam, terhanyut dengan pikiran masing-masing.

“Memangnya ayah dulu waktu seumurku nggak pernah jatuh cinta ya bunda?”, tanyamu tiba-tiba, memecah keheningan.

“Ya pasti pernah dong sayang. Setiap manusia di dunia ini pasti pernah jatuh cinta, sebab ketertarikan pada lawan jenis itu fitrahnya manusia.” jelas bunda.

“Berarti bunda juga pernah jatuh cinta dong?” tanyamu lagi.

“Ya pernah dong sayang, jangankan bunda, Fatimah putri Rosululloh juga pernah jatuh cinta kok nak.” jelas bunda lagi.

“Trus kenapa ayah ngelarang-ngelarang aku bunda?” tanyamu tandas.

“Sebab ayah sayang sama kamu nak.” tutur bunda sambil membelai rambutmu. “Coba kalau ayah dan bunda mengacuhkanmu, membiarkan kamu bergaul sesukamu. Belum apa-apa saja, kamu sudah jarang untuk sekedar ngobrol dengan ayah, bunda serta adik-adikmu. Bunda perhatikan juga, saat ini kamu lebih suka melamun dan sms-an ketimbang tilawah atau belajar. Nah, kalau sudah seperti itu dimana sisi baiknya sayang?” ucap bunda kepadamu.

“Coba kalau kita perhatikan berita-berita yang beredar akhir-akhir ini. BAnyak sekali lho anak para remaja yang terjerumus pada pergaulan bebas dan akhirnya hamil di luar nikah. Bukannya ayah dan bunda nggak percaya sama kamu nak, tapi yang namanya syetan itu suka sekali menghasut orang yang berpacaran supaya terjerumus pada hal-hal seperti itu. Fatimah az Zahra, putri Rosulullah ketika jatuh cinta hanya memendamnya saja. Sifatnya yang pemalu telah membentengi hati dan pikirannya agar senantiasa suci. Spesial untuk orang-orang yang teguh menjaga kesuciannya seperti Fatimah, Allah berjanji akan menjodohkannya dengan laki-laki yang suci juga di kemudian hari. Akhlak seperti Fatimah inilah yang harus kita teladani anakku. BUnda pun dulu juga berusaha untuk meneladani akhlak putri Rosululloh yang mulia tersebut.” kata bunda panjang lebar.

Engkau pun terdiam. Pandanganmu menerawang, menembus keluar jendela. Bunda tahu, kamu sedang mencermati kata-kata bunda. Meski ada sebagian kata-kata bunda yang belum bisa kamu terima sekarang nak, bunda yakin kelak kamu akan bisa memahaminya. Bunda akan senantiasa mendukungmu dengan segenap doa nak, agar kau bisa melalui masa mudamu dengan gemilang. Insyaallah.

 

 

by: Hani Fatma Yuniar, Nurul Hayat Edisi 77/Jumadil Akhir 1431 H-Juni 2010

About annzah

ibu dari 2orang putri ANNisa & ZAHra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s